GARUDASATU.CO

Tidak Semua Siswa Harus Naik Kelas, Ketika Tinggal Kelas Menjadi Bagaian Dari Edukasi

Oleh : Dr Abdul Rozak Fahrudin M.Pd (Dosen IKIP PGRI dan Pengurus Dewan Pendidikan Kaltim)

Di banyak sekolah hari ini, ada ketakutan untuk tidak menaikkan kelas siswa. Alasannya klasik, kasihan, takut orang tua protes, takut angka kelulusan turun, takut anak minder. Akibatnya, semua siswa dinaikkan, bahkan yang bermasalah, yang jarang masuk, yang tidak menguasai materi sama sekali.

Padahal, naik kelas bukanlah hadiah. Naik kelas adalah hak yang harus dicapai dengan memenuhi syarat.

1. Naik Kelas Adalah Pertanggungjawaban, Bukan Hadiah Massal

Pendidikan bertujuan membentuk kompetensi dan karakter. Jika seorang siswa dengan kehadiran 50%, tugas tidak pernah dikumpulkan, nilai semua mata pelajaran rendah, dan sikap bermasalah tetap dinaikkan, pesan apa yang kita sampaikan?

Kita sedang mengajarkan kepada siswa tersebut dan teman-temannya bahwa usaha tidak penting. Bahwa standar bisa diabaikan. Ini bukan kasih sayang, ini pembiaran yang berbahaya untuk masa depannya.

2. Tinggal Kelas Bukan Hukuman, Tapi Edukasi

Kita harus mengubah paradigma. Tinggal kelas bukanlah cap bodoh, bukan hukuman untuk mempermalukan anak.

Tinggal kelas adalah:
– Jeda untuk menguatkan, Memberi waktu tambahan untuk menguasai materi dasar yang belum tuntas. Bagaimana bisa belajar perkalian jika penjumlahan saja belum paham?
– Pelajaran tentang konsekuensi, Dalam kehidupan nyata, setiap tindakan ada konsekuensinya. Tidak bekerja dengan baik, ada konsekuensi. Tidak memenuhi syarat, ada konsekuensi. Sekolah adalah tempat paling aman untuk belajar tentang konsekuensi ini.
– Bentuk kepedulian yang sesungguhnya, Lebih kejam mana, menahan siswa satu tahun agar ia benar-benar siap, atau meluluskannya ke jenjang yang lebih tinggi di mana ia pasti akan semakin tertinggal, frustrasi, dan akhirnya putus sekolah?

3. Syarat Harus Jelas dan Transparan Sejak Awal

Agar kebijakan tinggal kelas tidak dianggap sewenang-wenang, sekolah wajib menetapkan syarat yang objektif dan transparan sejak awal tahun ajaran:

– Kriteria Akademik, Ketuntasan minimal di mata pelajaran, dan nilai rata-rata.
– Kriteria Kehadiran, Minimal kehadiran 80-85%. Jika tidak hadir, bagaimana bisa disebut belajar?
– Kriteria Sikap dan Perilaku, Etika, kedisiplinan, dan tanggung jawab mengerjakan tugas.
– Dokumentasi, Semua peringatan, pembinaan, dan komunikasi dengan orang tua harus tercatat. Tidak ada siswa yang tinggal kelas secara tiba-tiba di akhir tahun.

4. Peran Orang Tua dan Sekolah Harus Sejalan

Seringkali, saat siswa tidak naik kelas, yang marah adalah orang tua. “. Di sinilah pentingnya edukasi kepada orang tua.

Sekolah dan orang tua harus satu suara, bahwa tujuan kita sama, yaitu kebaikan anak dalam jangka panjang. Memaksa anak naik padahal belum mampu sama saja menjerumuskannya. Orang tua yang bijak akan melihat tinggal kelas sebagai kesempatan perbaikan, bukan aib keluarga.

Penutup, Berani Tidak Populer Demi Masa Depan Anak

Guru yang berani tidak menaikkan siswa yang tidak memenuhi syarat adalah guru yang berani tidak populer demi kebenaran. Kepala sekolah yang mendukung keputusan itu adalah pemimpin yang menjaga mutu.

Tujuan pendidikan bukan mencetak 100% siswa naik kelas. Tujuan pendidikan adalah memastikan setiap siswa yang naik kelas benar-benar layak dan siap untuk tantangan di tingkat selanjutnya.

Karena kelulusan yang berkualitas jauh lebih berharga daripada kelulusan 100% yang kosong.

Loading

Print this entry

BAGIKAN:

TINGGALKAN KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT