SAMARINDA– Komitmen Pemerintah Kota/Pemkot Samarinda dalam menekan angka stunting terus mendapat dukungan penuh dari pihak legislatif.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Yakob Pangedongan, menegaskan bahwa penanganan stunting merupakan investasi sumber daya manusia/SDM jangka panjang yang sangat krusial demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut disampaikan Yakob usai menghadiri Kick-Off Gerakan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting yang digelar kolaboratif bersama Pemkot Samarinda, Ikatan Bidan Indonesia/IBI Kota Samarinda, Persatuan Dokter Gigi Indonesia/PDGI Kota Samarinda, serta instansi terkait lainnya.
Yakob menyampaikan persoalan stunting tidak bisa dipandang sebelah mata karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi penerus bangsa. Penanganan gizi dan tumbuh kembang anak harus dipersiapkan secara komprehensif sejak dalam kandungan.
“Stunting ini persoalan yang sangat mendasar untuk generasi kita ke depan. Jadi harus dipersiapkan dan dikelola secara baik sejak dari dalam kandungan, saat lahir, sampai anak membesar,” ujar Yakob.
Ia menambahkan, target nasional Indonesia Emas 2045 akan sulit terwujud jika stunting tidak diintervensi serius dari sekarang.
“Kalau masalah ini dibiarkan, target Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai. Makanya pencegahan stunting ini menjadi hal mendasar untuk membentuk SDM kita yang berkualitas,” tegasnya.
Tidak hanya aspek gizi dan kesehatan fisik, politisi Samarinda ini memberi catatan kritis soal pola pengasuhan di tingkat keluarga. Menurutnya, pencegahan stunting kerap dianggap beban ibu semata, padahal peran ayah sangat menentukan.
“Peran ayah dan ibu itu sebetulnya sama besarnya. Tidak mungkin hanya dibebankan kepada ibu saja,” tutur Yakob.
Ia mengimbau para suami tidak sekadar fokus mencari nafkah, melainkan turut aktif mendampingi tumbuh kembang anak.
“Ayah memang harus peduli. Jangan hanya mencari nafkah atau uang, tetapi tumbuh kembang anak juga harus diurus bersama-sama dengan ibu. Harus ada kerja sama yang kuat di dalam rumah tangga terlebih dahulu sebelum kita melangkah ke luar,” lanjutnya.
Pesan ini relevan dengan data nasional yang menunjukkan bahwa pengasuhan yang kolaboratif antara ayah dan ibu terbukti meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, MPASI tepat, dan pemantauan tumbuh kembang di Posyandu.
Dalam kegiatan intervensi serentak tersebut, berbagai inovasi diperkenalkan, antara lain Gerakan Edukasi Kesehatan Gigi Anak/GARASI ANAK yang diinisiasi PDGI Kota Samarinda dan Gerakan Sayang Kekanakan/GASAKKAN dari IBI Samarinda.
Dua program ini dinilai menyasar hulu persoalan stunting, yakni kesehatan gigi dan mulut anak yang berpengaruh pada asupan gizi, serta pendampingan ibu hamil dan balita oleh bidan.
Yakob mengapresiasi kolaborasi lintas profesi tersebut.
“Kami di Komisi IV DPRD Samarinda sangat mendukung kegiatan seperti ini. Luar biasa melihat kolaborasi hari ini, di mana dokter gigi hingga para bidan ikut ambil bagian. Kami berharap gerakan serentak ini tidak hanya berhenti di satu tempat, tetapi bisa diperluas ke delapan sasaran wilayah atau posyandu lainnya di Samarinda,” ungkapnya.
Meski menekan angka stunting hingga nol persen adalah tantangan besar, Komisi IV DPRD optimistis komitmen berkelanjutan Pemkot Samarinda dan keterlibatan aktif masyarakat akan membuahkan hasil.
Sinergi antara eksekutif, legislatif, tenaga kesehatan, dan keluarga menjadi kunci agar intervensi tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan di 10 kecamatan se-Samarinda.
![]()







